Berikut ini adalah kumpulan humor lucu, dengan cerita humor terbaru ,,hahahaha
Di Larang Bicara
Untuk mensukseskan program “ABRI Masuk Desa” sejumlah pasukan di sebuah desa terpencil di pinggiran Ainaro, Timtim, dikerahkan untuk mendirikan gedung sekolah. Setelah itu mereka diinstruksikan agar mengajak anak anak agar mau pergi bersekolah.
Rupanya Soares, 10, adalah salah satu anak yang dipaksa tentara bersekolah. Di sekolah ia diajari oleh guru tentara tentang sejarah Proklamasi RI, perjuangan kemerdekaan, pahlawan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, era kejayaan Majapahit dan Pemberontakan Komunis pada September 1965.
Setelah 1 minggu ikut pelajaran sekolah tentara, Soares ditanya ibunya. “Nak, apa pengalamanmu selama seminggu di bangku sekolah,” tanya ibunya.
“Saya hanya buang-buang waktu saja. Saya tidak bisa membaca, saya tidak bisa menulis, dan saya tidak diperbolehkan bicara …”
Menghindari Ancaman ABRI
Dua orang lelaki di pinggiran Los Palos, Timtim, ditangkap ABRI dengan tuduhan terlibat kegiatan antiintegrasi. Mereka dibawa ke Markas SGI di Dili dan menjalani proses pemeriksaan. Meski disiksa, keduanya menolak memberikan keterangan.
“Di mana tempat tinggalmu?,” tanya, interogrator.
“Saya tinggal di sembarang tempat,” jawab yang satu. “Kadang di ladang, di gunung, di hutan, di pantai, di rumah penduduk …yaa… dimana saja.”
Merasa buntu menghadapi perlawanan ala Timtim, sang interogrator beralih kepada lelaki satunya. “Kalau kau, tinggal dimana?”
“Ah, saya bertetangga dengan dia.”
Pemeritah Dan Bikini
Seorang wartawan Amerika yang tengah berjalan-jalan di pinggir pantai Kuta di Bali bertemu dengan seorang intelektual muda yang tampaknya tengal menyaksikan kaum nudis.
Wartawan Amerika segera mendekati sang intelektual muda dan bertanya, “Menurut Anda, apa perbedaan antara bikini dan pemerintah.”
“Tak ada perbedaannya, yang ada justru persamaanya”, jawah sang intelektual muda, “Banyak orang justru merasa heran dengan apa yang menyebabkan mereka tetap menyantol di tempatnya. Dan semua orang sekaligus juga selalu berharap mudah-mudahan mereka segera melorot.”
Ralat Bohong
Sebuah surat kabar terkemuda terbitan Jakarta menurunkan headline dengan judul besar di halaman depan, ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’.
Tentu saja keesokan harinya sang pemimpin redaksi dipanggil menghadap ke Departemen Penerangan dan ke Mabes ABRI di Cilangkap. Si pemimpin redaksi dimaki-maki dan diminta segera meralat beritanya. Bila tidak SIUPP-nya bakal dicabut.
Maka keesokan harinya dimuatlah ralat berita sehari sebelumnya. Berikut ralatnya secara lengkap:
“Dengan ini kami meralat headline kemarin yang berjudul ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’ yang ternyata sama sekali tidak benar. Yang benar adalah ‘50% PEJABAT TINGGI KITA BUKAN KORUPTOR DAN BUKAN PENJAHAT’. Dengan demikian headline yang kami turunkan dianggap tidak pernah ada.”
Watak Setengah ABRI
Seorang perempuan di pinggiran Dili, Timtim, Marietta kawin dengan anggota ABRI asal Jawa.
Suatu hari putera mereka kembali dari sekolah dengan wajah murung dan langkah gontai.
“Ada apa sayang?” tanya Marietta.
“Saya ini orang Timtim atau Jawa, sih?”
“Lho, kenapa kamu bertanya begitu? Memang ayahmu ABRI Jawa dan ibumu Timtim. Tapi bukankah kau bisa menjadi kedua-duanya?”
“Saya bingung!” sahut anaknya, “Tadi di sekolah ada teman sekelas bawa sebuah radio kecil dan hendak menjualnya Rp 20 ribu pada saya. Dan saya tak tahu, apakah saya harus menawar atau mengambil saja radio itu.”
Identitas ABRI
Di sebuah salon tradisional di Dili, seorang tukang potong rambut sedang menggunting seorang pemuda berbadan tegap dengan rambut terburai hingga pundak.
“Apakah Bapak berdinas di ketentaraan?” tanya sang tukang cukur.
“Ya,” sahut sang pemuda, “Darimana anda tahu?”
“Hmm,” ujar sang tukang cukur, “Saya menemukan baret dibalik rambut Bapak.”
Neraka Ganjaranya
Empat puluh ibu-ibu Dharma Wanita yang pernah memborong belanjaan di Bangkok dipimpin istri Meneer Van Dhanu tiba di ruang seleksi. Malaikat yang bertugas segera menerima mereka.
“Ibu-ibu, siapa di antara kalian yang waktu di dunia suka berbelanja hingga berkoli-koli,” tanya malaikat.
Kecuali seorang, semuanya mengacung sambil menekuk muka malu-malu. :
“OK, saya cuma mau tanya. Sekarang siapa di antara kalian yang tak pernah mempercayai suaminya?” lanjut malaikat.
Tiga puluh sembilan di antara wanita itu mengacungkan jarinya. Cuma Nyonya Van Dhanu yang tidak. Melihat hal itu, malaikat cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengangkat telepon.
“Hallo neraka?!… Apakah masih ada kamar untuk tiga puluh sembilan wanita yang tak pernah mempercayai suaminya dan satu untuk seorang wanita yang tuli?!”
Keluar Negri Saja Terus
Akibat serial kunjungan keluar negeri Soeharto jatuh sakit dan harus beristirahat selama 10 hari.
Menteri sekretaris negara mengeluarkan pengumuman resmi, “Akibat kunjungan ke luar negeri, Soeharto perlu beristirahat.”
Akibat pernyataan ini nilai rupiah anjlok. Menteri sekretaris negarapun menyatakan, “Soeharto tidak sakit, hanya perlu beristirahat.”
Kali ini giliran bursa saham anjlok. Seorang pengamat ekonomi dengan nada jengkel berkata, “Agar tak kelelahan, tak sakit dan tak perlu beristirahat, kenapa Soeharto tak keluar negeri seterusnya saja?”
Kebebasan Setelah Bicara
Menlu Ali Alatas di Jakarta dalam sebuah wawancara dengan wartawan asal Portugal menegaskan, “Di sini Anda bisa menemukan kebebasan untuk berbicara seperti yang biasa Anda temukan di negeri Anda. Anda bebas untuk berbicara apa saja!”
Wartawan Portugal lantas bertanya, “Tapi apakah saya bisa menemukan kebebasan setelah berbicara!”
Dia Adalah Tuhan
Untuk melepas kepenatan dan bisa menenangkan pikiran dari gejolak moneter dan bencana yang sedang melanda negerinya, Soeharto minta pada staf Bina Graha agar memasang aquarium besar di rumahnya dan mengisinya dengan berbagai jenis ikan. Soeharto senang dengan mainan barunya itu. Ia kerap membersihkan dan menganti air aquarium sendiri.
Rupanya di aquarium Soeharto ada seekor ikan mas yang suka berfilsasat. Tiba-tiba ia mendekati seekor temannya dan bertanya, “Kau percaya adanya Tuhan?”
“Tentu saja,” jawab sang teman, “Kalau bukan Dia, siapa lagi sih yang mengganti air dalam aquarium ini?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar